Sejak saat sampai di gedung aku sudah kawatir "jangan jangan Yiki datang bersama Linata" kata kata itu berputar seperti komedi di putar di kepalaku, kakiku gemetar, dadaku bedegup kencang. Apa sebenarnya yang terjadi hingga dadaku berdegup sekencang ini? "Aku takut Yiki datang" bisikku kepada Mia yang berada tepat di sebalahku. Mia berkata "Jangan begitu, Kau sudah cukup cantik untuk menghukumnya", aku duduk dengan santai dan sekali lagi berkata kepada Mia "aku takut Yiki datang", ketika Mia hendak menjawabku aku menoleh ke belakang dan mataku langsung membelalak ketika melihat kemeja kotak kotak abu abu kesukaanku itu sedang di kenakan dengan celana panjang hitam dan sendal japit khasnya. Tuhan itu Yiki, aku langsung mengalihkan wajahku, menghadap panggung yang bernuansa putih itu dan berbisik kepada Mia "Dia datang bersama Linata" kataku cukup tegar, kakiku makin bergetar, ujung jari jariku mulai membeku kedinginan. Aku menoleh kembali, dia sudah duduk. Tuhan apa yang harus aku lakukan aku bingung dan frustasi. "Diamlah Nayla dia berusaha mengamatimu dari kejauhan" bisik Mia kepadaku, aku melihat sekitar tapi tetap pura pura tidak melihat Yiki, "benar yiki sedang memperhatikanku" bisikku dalam hati. Tidak lama mereka berada di sana tanpa aku sadari Yiki dan Linata lewat di sebelah deret kursiku, aku rasa mereka sadar akan kehadiranku di sana dan merasa terganggu. Mereka berpamitan kepada seseorang disana dan pergi, Yiki sama sekali tidak menoleh ke arahku. Baiklah ini harus dilakukan, kataku dalam hati. "Mia aku ingin ke Afan untuk memastikan dia memindah helmku dengan benar" Afan memang sudah berkata jika ia akan pergi setelah jam 8. Jadi aku dan Mia pergi ke parkiran dan menghampiri Afan yang sudah hampir meninggalkan parkiran itu, "Afan!" teriakku sambil berlari kecil, aku yakin Yiki dan Linata tahu soal teriakanku tadi, mereka memang sedikit menoleh ke arahku. "Kau sudah mau pergi," kataku santai "iya, helmmu sudah aku pindah di motor Mia" dia bilang, "oke, makasih yaa. Hati hati di jalan"kataku singkat dan pergi meninggalkan Afan. Berjalan dengan tidak yakin menuju Mia yang menungguku di sisi kegelapan parkiran itu. Melewayi Yiki tanpa menyapanya? Tidak masalah, jangn menyapanya Nayla. "Yiki!" sapaku spontan, Yiki yang sedang sibuk mengambil helmnya menoleh ke arahku, tersenyum. Tanpa pikir panjang tanganku melambai ke arahnya dengan senyum hangat yang akan memeluknya. Aku langsing berpaling dan melihat Mia pertama kali yang aku katakan "Apakah aku yerlihat cantik saat menyapanya?", Mia menangguk tanda dia setuju. "Kamar mandi, ya aku butuh kamar mandi Mia.". Sesampainya di depan kamar mandi aku hanya terdiam di serambinya dan berkata kepada Mia "dia tersenyum kepadaku", seolah tidak peduli aku ulang kembali kata kataku "Dia tersenyum dan melambaikan tangan kepadaku Mia!" Mia terkekeh, lalu berkata "Tadi waktu disana Yiki sepertinya tau kalau kau sengaja ke sana" Mia mengerit dan melanjutkan kata katany "Yiki tampaka membicarakanmu kepada Linata, Yiki menunjuk nunjukmu tadi.", dengan santai aku jawab "alah, biar saja. Aku tidak peduli". Yiki menunjukku? Kenapa? Aku masih belum tau soal itu. Awalnya aku ingin menangis tapi Mia bilang "untuk apa? Dia telah terhukum dengan kecantikkanmu Nayla", karna kata kata iru Mia memutuskan untuk tidak menangis melainkan dia berdoa kepada Allah yang Maha segalanya "Allah, jangan sampai Linata melingkarkan tangannya ke pinggang Yiki, itu milikku Ya Allah, Jaga Yiki dengan baik Yaa Allah".
Sesampainya di rumah aku kegirangan habis habisan, Yiki membalah senyum dan lambaian tangan ku. Terimakasih Allah Kau masih ijinkan aku melihat Bulan dekatku. Rasa sykur itu tak henti hentinya aku ucapkan. Terimakasih Tuhan Kau telah memberiku kesempatan untuk melohat senyum bulan sabitku itu.
♥NT