Allah giving me inspiration
Senin, 29 Desember 2014
Ini memang sudah lama, tapi aku rindu ketika secara tiba tiba pesanmu mampir di HandPhone-ku. Aku ridu ketika sudah tiba waktunya Hujan mengguryur bumi bersamamu, Aku ingat bagaimana itu terjadi dan aku masih sangat ingat saat kita bersama.Aku sama sekali tidak pernah menyianyiakanmu untuk apa semua itu aku lakukan? Hanya saja aku merasa kamu masih terlalu baik padaku.
Sabtu, 06 September 2014
Senyum Bulan Sabit ♥
Oh Tuhan, sungguh aku berterima kasih padamu. Kau masih membolehkanku melihat senyum bulan sabitku. "Dia tersenyum kepada" bisikku kepada temanku yang sedang mengantarkanku untuk pura pura ke parkiran untuk bertemu dengan Yiki. Yiki bersama pacar barunya. Tuhan sungguh hantaman itu masih terlalu keras, aku masih belum bisa terima Yiki telah melepaskanku begitu saja. Tuhan Linata pacar Yiki benar benar selera Yiki (Terima Kasih Tuhan Kau berikan yang terbaik untuknya), Linata seorang muslim (Tuhan jaga dia), Linata seorang yang baik (Oh Tuhan lindungi dia).
Sejak saat sampai di gedung aku sudah kawatir "jangan jangan Yiki datang bersama Linata" kata kata itu berputar seperti komedi di putar di kepalaku, kakiku gemetar, dadaku bedegup kencang. Apa sebenarnya yang terjadi hingga dadaku berdegup sekencang ini? "Aku takut Yiki datang" bisikku kepada Mia yang berada tepat di sebalahku. Mia berkata "Jangan begitu, Kau sudah cukup cantik untuk menghukumnya", aku duduk dengan santai dan sekali lagi berkata kepada Mia "aku takut Yiki datang", ketika Mia hendak menjawabku aku menoleh ke belakang dan mataku langsung membelalak ketika melihat kemeja kotak kotak abu abu kesukaanku itu sedang di kenakan dengan celana panjang hitam dan sendal japit khasnya. Tuhan itu Yiki, aku langsung mengalihkan wajahku, menghadap panggung yang bernuansa putih itu dan berbisik kepada Mia "Dia datang bersama Linata" kataku cukup tegar, kakiku makin bergetar, ujung jari jariku mulai membeku kedinginan. Aku menoleh kembali, dia sudah duduk. Tuhan apa yang harus aku lakukan aku bingung dan frustasi. "Diamlah Nayla dia berusaha mengamatimu dari kejauhan" bisik Mia kepadaku, aku melihat sekitar tapi tetap pura pura tidak melihat Yiki, "benar yiki sedang memperhatikanku" bisikku dalam hati. Tidak lama mereka berada di sana tanpa aku sadari Yiki dan Linata lewat di sebelah deret kursiku, aku rasa mereka sadar akan kehadiranku di sana dan merasa terganggu. Mereka berpamitan kepada seseorang disana dan pergi, Yiki sama sekali tidak menoleh ke arahku. Baiklah ini harus dilakukan, kataku dalam hati. "Mia aku ingin ke Afan untuk memastikan dia memindah helmku dengan benar" Afan memang sudah berkata jika ia akan pergi setelah jam 8. Jadi aku dan Mia pergi ke parkiran dan menghampiri Afan yang sudah hampir meninggalkan parkiran itu, "Afan!" teriakku sambil berlari kecil, aku yakin Yiki dan Linata tahu soal teriakanku tadi, mereka memang sedikit menoleh ke arahku. "Kau sudah mau pergi," kataku santai "iya, helmmu sudah aku pindah di motor Mia" dia bilang, "oke, makasih yaa. Hati hati di jalan"kataku singkat dan pergi meninggalkan Afan. Berjalan dengan tidak yakin menuju Mia yang menungguku di sisi kegelapan parkiran itu. Melewayi Yiki tanpa menyapanya? Tidak masalah, jangn menyapanya Nayla. "Yiki!" sapaku spontan, Yiki yang sedang sibuk mengambil helmnya menoleh ke arahku, tersenyum. Tanpa pikir panjang tanganku melambai ke arahnya dengan senyum hangat yang akan memeluknya. Aku langsing berpaling dan melihat Mia pertama kali yang aku katakan "Apakah aku yerlihat cantik saat menyapanya?", Mia menangguk tanda dia setuju. "Kamar mandi, ya aku butuh kamar mandi Mia.". Sesampainya di depan kamar mandi aku hanya terdiam di serambinya dan berkata kepada Mia "dia tersenyum kepadaku", seolah tidak peduli aku ulang kembali kata kataku "Dia tersenyum dan melambaikan tangan kepadaku Mia!" Mia terkekeh, lalu berkata "Tadi waktu disana Yiki sepertinya tau kalau kau sengaja ke sana" Mia mengerit dan melanjutkan kata katany "Yiki tampaka membicarakanmu kepada Linata, Yiki menunjuk nunjukmu tadi.", dengan santai aku jawab "alah, biar saja. Aku tidak peduli". Yiki menunjukku? Kenapa? Aku masih belum tau soal itu. Awalnya aku ingin menangis tapi Mia bilang "untuk apa? Dia telah terhukum dengan kecantikkanmu Nayla", karna kata kata iru Mia memutuskan untuk tidak menangis melainkan dia berdoa kepada Allah yang Maha segalanya "Allah, jangan sampai Linata melingkarkan tangannya ke pinggang Yiki, itu milikku Ya Allah, Jaga Yiki dengan baik Yaa Allah".
Sesampainya di rumah aku kegirangan habis habisan, Yiki membalah senyum dan lambaian tangan ku. Terimakasih Allah Kau masih ijinkan aku melihat Bulan dekatku. Rasa sykur itu tak henti hentinya aku ucapkan. Terimakasih Tuhan Kau telah memberiku kesempatan untuk melohat senyum bulan sabitku itu.
Sejak saat sampai di gedung aku sudah kawatir "jangan jangan Yiki datang bersama Linata" kata kata itu berputar seperti komedi di putar di kepalaku, kakiku gemetar, dadaku bedegup kencang. Apa sebenarnya yang terjadi hingga dadaku berdegup sekencang ini? "Aku takut Yiki datang" bisikku kepada Mia yang berada tepat di sebalahku. Mia berkata "Jangan begitu, Kau sudah cukup cantik untuk menghukumnya", aku duduk dengan santai dan sekali lagi berkata kepada Mia "aku takut Yiki datang", ketika Mia hendak menjawabku aku menoleh ke belakang dan mataku langsung membelalak ketika melihat kemeja kotak kotak abu abu kesukaanku itu sedang di kenakan dengan celana panjang hitam dan sendal japit khasnya. Tuhan itu Yiki, aku langsung mengalihkan wajahku, menghadap panggung yang bernuansa putih itu dan berbisik kepada Mia "Dia datang bersama Linata" kataku cukup tegar, kakiku makin bergetar, ujung jari jariku mulai membeku kedinginan. Aku menoleh kembali, dia sudah duduk. Tuhan apa yang harus aku lakukan aku bingung dan frustasi. "Diamlah Nayla dia berusaha mengamatimu dari kejauhan" bisik Mia kepadaku, aku melihat sekitar tapi tetap pura pura tidak melihat Yiki, "benar yiki sedang memperhatikanku" bisikku dalam hati. Tidak lama mereka berada di sana tanpa aku sadari Yiki dan Linata lewat di sebelah deret kursiku, aku rasa mereka sadar akan kehadiranku di sana dan merasa terganggu. Mereka berpamitan kepada seseorang disana dan pergi, Yiki sama sekali tidak menoleh ke arahku. Baiklah ini harus dilakukan, kataku dalam hati. "Mia aku ingin ke Afan untuk memastikan dia memindah helmku dengan benar" Afan memang sudah berkata jika ia akan pergi setelah jam 8. Jadi aku dan Mia pergi ke parkiran dan menghampiri Afan yang sudah hampir meninggalkan parkiran itu, "Afan!" teriakku sambil berlari kecil, aku yakin Yiki dan Linata tahu soal teriakanku tadi, mereka memang sedikit menoleh ke arahku. "Kau sudah mau pergi," kataku santai "iya, helmmu sudah aku pindah di motor Mia" dia bilang, "oke, makasih yaa. Hati hati di jalan"kataku singkat dan pergi meninggalkan Afan. Berjalan dengan tidak yakin menuju Mia yang menungguku di sisi kegelapan parkiran itu. Melewayi Yiki tanpa menyapanya? Tidak masalah, jangn menyapanya Nayla. "Yiki!" sapaku spontan, Yiki yang sedang sibuk mengambil helmnya menoleh ke arahku, tersenyum. Tanpa pikir panjang tanganku melambai ke arahnya dengan senyum hangat yang akan memeluknya. Aku langsing berpaling dan melihat Mia pertama kali yang aku katakan "Apakah aku yerlihat cantik saat menyapanya?", Mia menangguk tanda dia setuju. "Kamar mandi, ya aku butuh kamar mandi Mia.". Sesampainya di depan kamar mandi aku hanya terdiam di serambinya dan berkata kepada Mia "dia tersenyum kepadaku", seolah tidak peduli aku ulang kembali kata kataku "Dia tersenyum dan melambaikan tangan kepadaku Mia!" Mia terkekeh, lalu berkata "Tadi waktu disana Yiki sepertinya tau kalau kau sengaja ke sana" Mia mengerit dan melanjutkan kata katany "Yiki tampaka membicarakanmu kepada Linata, Yiki menunjuk nunjukmu tadi.", dengan santai aku jawab "alah, biar saja. Aku tidak peduli". Yiki menunjukku? Kenapa? Aku masih belum tau soal itu. Awalnya aku ingin menangis tapi Mia bilang "untuk apa? Dia telah terhukum dengan kecantikkanmu Nayla", karna kata kata iru Mia memutuskan untuk tidak menangis melainkan dia berdoa kepada Allah yang Maha segalanya "Allah, jangan sampai Linata melingkarkan tangannya ke pinggang Yiki, itu milikku Ya Allah, Jaga Yiki dengan baik Yaa Allah".
Sesampainya di rumah aku kegirangan habis habisan, Yiki membalah senyum dan lambaian tangan ku. Terimakasih Allah Kau masih ijinkan aku melihat Bulan dekatku. Rasa sykur itu tak henti hentinya aku ucapkan. Terimakasih Tuhan Kau telah memberiku kesempatan untuk melohat senyum bulan sabitku itu.
♥NT
Rabu, 09 April 2014
Untuk Semua Yang Telah Terkuak
Probolinggo, 06 April 2014
Tepat pukul 04.00 sore aku mengendarai motor maticku menuju Asrama
putri di Jl, Dr. Soetomo. Tiba di sana aku langsung menghubungi sahabatku untuk
memberitahu jika aku sudah ada di depan. Lalu dia keluar dengan setelan kaos
dan celana ukuran lututnya dan menggunakan sadal jepitnya, dia terlihat
berantakan, mungkin karna dia baru bangun tidur.Tanpa banyak bicara kita
langsung menuju Super Market dan membeli persediaan bulanan Sahabatku itu. Setelah
membayar di kasir, kitapun pergi meninggalkan SuperMarket dan menuju ke
restaurant cepat saji di Jl Suroyo. Sesampainya di sana semua itu terkuak
secara perlahan. Aku mengawali itu semua dengan kata "Aku masih mencintai
Yiki", lalu aku mulai bercerita bagaimana awalnya Citra memberitahuku soal
hubungannya dengan Yiki. setelah semua ceritaku Sahabatku Orina bertanya
"Kapan dia bilang gitu?"|"aku pikir itu awal Desember". Dia
hanya tersenyum, aku tanya "Kenapa? memangnya sejak kapan mreka
dekat?" Orina menjawab "sejak saat kita ke Bali". Aku shock! aku
hanya tersenyum untuk menutupi itu semua. Ditambah lagi semua teman dekatku
sudah mengetahui tentang hubungan mreka berdua. Ada lagi cara mreka dekat
ternyata hanya karena salah satu dari mreka berkata dengan sedikit lelucon
didalamnya "mau gak jadi pacarku" setelah itu Yikipun pergi ke kamar
Citra dengan mengetok pintu dan membawa smartphonenya dia
menulis "aku sayang kamu". sepulang dari Balilah semua hubungan mreka
dimulai. Kejam, Tega mreka semua tega, kenapa tidak memberitahuku dari awal
saja? setelah aku tau ini semua itu rasanya sakit. mungkin lebih baik kalian
tidak usah mengatakan itu semua didepanku. kalian benar2 tega. Aku kecewa, SEBODOH
ITUKAH AKU? Hingga aku tidak tau hubungan kalian berdua di belakangku? SEBODOH
ITUKAH AKU? Hingga aku dengan mudah bercerita tentang Yiki ke Citra saat mreka
sedang dalam hubungan? Aku lelah. Sumpah demi Allah Yang Maha Tahu aku masih
mencintai Yiki.
Akupun pulang sesampainya dirumah aku sudah tidak memikirkannya.
aku di ajak belanja Mama. Kita samapai di rumah lagi pukul 09.30 malam, aku
langsung mengganti baju dan hanya terbaling di kasurku. tiba tiba lagu Tak
sanggup dari Rossapun beralun di HandPhone-ku disusul
dengan lagu Sammy Simonangkir Kau Harus Bahagia, air mataku mengalir deras, seketika itu juga aku menangis, aku merasa sakit aku tidak tau apa itu tapi
aku selalu memukul dadaku dan berkata "Cukup! Aku sudah merasakan sakit
ini". 30 menitpun berlalu mataku sudah sembab aku benci itu, aku
menghiraukan mata sembabku dan menulis artikel dan aku masih bercucuran air
mata ketika menulis ini:
"Tega! Setelah sekian lama aku baru tau sekarang. kalian
menusukku dari belakang? Kalian benar benar taga. Dia sahabatku dan Kau
mantanku. Apa? Bermula dari lelucon? hah! itu sangat lucu. Didepan kamar Hotel
"Hawaii" di Bali kau menulis "aku sayang kamu!" Bahkan dulu
kau tidak pernah melakukan itu padaku. Kalian menipuku? Mungkin aku terlalu
bodoh dimata kalian hingga kalian dapat melakukan itu semua di belakangku?
Sakit! Ini semua sakit! Tuhan memang baik, Dia tidak yakin kau bersama dia.
Terima Kasih Tuhan. Apa? Apa aku harus melakukannya? Aku hanya ingin menangis
di pundak Citra. Aku masih mencintaimu Yiki. Sungguh. Aku bahkan tidak pernah
rela melepaskanmu walau pun itu dengan sahabatku sendiri. Aku bingung, Aku
kehabisan arah. Hanya sakit yang aku rasakan, semua dendamku padamu dan dia
bahkan aku tidak merasaknnya. ini terlalu menyakitkan bagiku. Aku hanya bisa
berpura pura tegar di depan kalian. Aku ingin marah,Tapi haruskah? Untuk apa?
Untuk karena seorang sahabatku yang telah mengambil permen bekas ludahku?
Tidak, Tenang saja aku tidak sekejam itu. Aku lelah dengan Yiki dan Citra
hingga tidak tau harus berbuat apa. Pening, Pusing, dan Kesedihan yang akan
menemaniku sekarang. Aku sudah merasakan karmanya, Terimakasih Maria(mantan
Yiki dan mantan sahabatku sendiri). GoodBye My Boo. I will always Love You, Forever in
my heart.
♥NT"
Kamis, 20 Maret 2014
Hello Mr & Mrs Blog :)
hello, aku baru disini jadi jangan hina aku -oo- (hahaha :D)
aku disini gara gara kenalan gue(lebih tepatnya mantan gue) yang ngasih aku inspirasi buat nulis :D aku nggak tau kalian suka ato nggak sama apa yang aku tulis. Pokoknya jangan pernah hina tulisan gue. Thanks, Love you all :D :* Allah always blessing you <3
aku disini gara gara kenalan gue(lebih tepatnya mantan gue) yang ngasih aku inspirasi buat nulis :D aku nggak tau kalian suka ato nggak sama apa yang aku tulis. Pokoknya jangan pernah hina tulisan gue. Thanks, Love you all :D :* Allah always blessing you <3
Langganan:
Komentar (Atom)